Blog

Pengalaman Dosen Baru: Yakin Mau ‘Kerja’ Jadi Dosen (PNS)?

“Jo, lo masih kerja di tempat lama nggak?”

“Udah resign gue. Pindah.”

“Kemana?”

“Jadi Dosen.”

“Wih. Dimana?”

“………”

“Lo Jadi Dosen? PNS?”

Dan obrolan itu biasanya nyambung ke pertanyaan pengalaman menjadi dosen baru yang udah pasti ketebak dan udah ada template jawabannya. Kenapa sudah ada? Karena yang bertanya hal serupa seputar kehidupan Dosen (PNS) setelah lingkungan sekitar tahu nggak Cuma satu atau dua orang. Kalau dihitung, kira-kira bisa lebih dari 10 orang. Pertanyaan umumnya adalah, yang pertama: Gimana? Enak nggak jadi dosen, apalagi PNS? Kedua, gajinya berapa? Ketiga, lebih santai dong kerjanya?

Kalo males baca, tonton aja di sini:

Oke. Jawabnnya rada panjang. Dan bisa ngabisin segelas kopi anget dua sachet sekaligus. Tolong disiapkan. Ini narasi yang dibuat setelah setahun ngalamin berprofesi sebagai dosen, dan dibayar oleh negara alias berstatus sebagai pegawai negeri.

coffee winks GIF pengalaman dosen baru Pengalaman Dosen Baru: Yakin Mau ‘Kerja’ Jadi Dosen (PNS)? giphy

Ini Ngomongin Enak Apa Nggak

Kalau ditanya gimana pengalaman menjadi dosen baru, ya jawabannya biasa aja. Namanya juga kerja. Nah, Namanya juga masuk ke ‘dunia lain’ yang sebelumnya belum pernah dimasukin, pasti banyak hal yang ngagetin. Pertama, kalau pandangan banyak orang dosen itu cuma ngajar, udah pasti dimentahkan. Dosen ternyata punya tiga kerjaan pokok. Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Sebagai dosen ‘baru’, pasti lebih dominan di Pendidikan. Adaptasi gimana caranya  ngomong di depan banyak orang yang usianya rata-rata di bawah kita.

Kalau cuma ngajar doang, emang santai banget. Kewajiban dosen untuk mengajar selama satu semester sebenarnya cuma 12 SKS (satuan kredit semester) setiap minggu. Kalau 1 sks sekitar 45 menit, berarti dalam seminggu jam kerja yang dibutuhkan ya sekitar 1,740 menit, atau 29 jam. Ini kalau cuma ngajar lho ya! Inget juga, buat ngajar, sepengalaman gue kita perlu nyiapin materi, presentasi, mikirin apa yang mau diomongin, project atau tugas apa yang harus dishare ke mahasiswa, sampai ngasih nilai ke mahasiswa. Belum kalau ada mahasiswa yang perlu dapet ‘treatment’ khusus.

Oh iya, ngomongin 12 sks per dosen, ini untuk dosen tetap di sebuah perguruan tinggi ya. Di tempat gue ngajar pun, jenis dosen ada 3: Dosen tetap PNS, dosen tetap non PNS, dan dosen praktisi. Status gue sekarang di Dosen tetap PNS (Walau masih CPNS). Di sini, kewajiban mengajar sebenarnya cuma 12 sks per semester. Beberapa dosen seangkatan ada juga sih yang lebih. Kenapa 12 sks? Karena ketentuannya sudah diatur dari Kemristekdikti. Kalau di bawah 12 sks, katanya nggak sesuai sama KPI. Oh satu lagi, sebagai dosen PNS, ada 2 nomor yang bakal kita dapatkan. Pertama Nomor induk pegawai (buat tanda kalau kita memang pegawai negeri), kedua Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) buat tanda kalau memang kita benar dosen yang ada di kampus itu. Makannya namanya dosen tetap. NIDN ini ibarat SIM kali ya? Jadi buat performa ngajar, riset, sampai laporan pengabdian ke masyarakat nantinya perlu pakai NIDN. Semuanya bisa ngecek juga kok di Forlap RIsetdikti. Kurang lebih gitu yang gue tangkep. Maaf ya pemahaman birokrasi hamba masih sangat cetek.

sorry dog GIF pengalaman dosen baru Pengalaman Dosen Baru: Yakin Mau ‘Kerja’ Jadi Dosen (PNS)? giphy

Nah, kalau secara pribadi, dengan aturan minimal 12 sks buat dosen tetap udah lebih dari cukup. Sisanya bisa buat yang lain. Nulis, riset, ngobrol-ngobrol lucu, ngecek project mahasiswa, atau ngelakuin hal lain.

Jadi, kalau konteksnya ngajar doang, pasti santai. Tapi ada banyak hal lain yang ternyata dikerjain di luar kelas. Mulai dari penelitian: bikin jurnal yang katanya harus setahun sekali. Pengabdian masyarakat? Ini juga perlu setahun sekali. Cara nilainya dari mana? Setiap tahun, penilaian dari atasan. Ya kalau di corporate biasanya ada review yang nantinya ngefek ke bonus tahunan atau kenaikan gaji kita lah. Nah, kalau jadi dosen, ya bukan bonus yang diincer sih. He.

Terus jawabannya gimana? Kalau santai, sepertinya nggak juga. Tergantung cara menikmatinya. Kalau emang kita nggak suka sama kerjaan kita, mau sesantai apapun kerjaan, kayaknya pun juga tetep keliatan nggak santai.

Gue tau, banyak yang nungguin soal gaji. Tapi sebelum lupa, ada satu hal yang bisa didapatkan ketika jadi dosen dan nggak ada di tempat lain: interaksinya beragam. Sebenarnya, guru mungkin ngalamin, tapi rentan usianya beda. Kalau dosen, lebih sering interaksi sama mahasiswa usia 17 – 21 tahun. Dan karena kebetulan gue di politeknik, durasi interaksinya di kisaran 3 tahun. Abis itu ganti lagi. Tiap tahun ada anak baru, dan ada anak yang lulus. Mukanya nggak itu lagi-itu lagi. Ini yang bikin beda sih.

Ini Ngomongin Gaji Dosen

Oke, sekarang ngomongin gaji. Sebagai CPNS, dan nanti jadi PNS, gaji dosen awal masuk dengan gelar magister di kisaran 2.3. Kisaran ya. Dan ini gaji pokok yang diterima. Ada kok SK nya. Nah, selama PNS, kita menerima 80% dari total gaji pokok. Nanti kalau udah dapet SK PNS, baru naik jadi 100%. Jadi, gaji pokok dosen PNS di tahun-tahun awal ada di kisaran 2.5 juta rupiah lah.

“Lah? Kecil amat?” ini respon yang biasa didapat dari teman bicara gue kalau ngomongin gaji. Nah, ini yang agak unik, dan setiap kampus punya kebijakannya sendiri-sendiri. Penghasilan dosen dari gaji pokok memang kecil. Tapi, ada plus-plusnya. Plus yang udah pasti dapet nih: uang transport dan makan harian (mungkin di tempat lain ada istilah beda). Biasanya ditransfer di awal-awal bulan dari kampus. Jangan salah, walau nggak ngajar, dosen yang statusnya PNS, harus masuk tiap hari sesuai jam kerja (karena ada kerjaan lain). Nah, salah satu kompensasinya adalah ada uang transport dan makan ini. Kurang lebih kisarannya di 500 – 700 lah sebulan. Tergantung berapa banyak hari kerja di bulan itu.

“Masih di bawah UMR dong?” Pasti ada yang bilang itu. Maksudnya UMR di sini UMR Jakarta ya. Ada di kisaran 4 jutaan ya kalau nggak salah?

Yap! Tapi ada plus yang lain. Misal: Ada istilahnya RDK (rapat dalam kantor kalo nggak salah). RDK ini, biasanya dilakukan setelah jam kerja. Karena atasan gue baik (cie…), beberapa bulan sekali bahkan ada yang sebulan berkali-kali diajak RDK. Lumayan cuy, sekali RDK 150 ribuan. Bayangin kalau dalam setahun, rata-rata 2 RDK per bulan. 300 ribu di kantong. Udah berapa tuh?

Gaji pokok + Uang transport + RDK = 2,5 + 0,5 + 0,3 = 3,3. Belum bisa buat nyicil rumah ya? Ada lagi nggak?

finals calculating GIF pengalaman dosen baru Pengalaman Dosen Baru: Yakin Mau ‘Kerja’ Jadi Dosen (PNS)? 100

Ada sih. Sebenernya, ini gue sebut sebagai duit kaget. Karena nggak setiap bulan dapat juga. Misal: honor ngoreksi soal UTS & UAS, honor bikin soal UTS & UAS, honor jadi panitia kegiatan, honor ngawasin ujian, atau honor-honor lain. Anggap aja ini bonus tahunan ya.

Ada lagi? Ada. Ini yang biasanya jackpot sih. Kan tadi di awal gue bilang, dosen nggak cuma ngajar. Bisa penelitian dan bisa juga pengabdian masyarakat. Dua hal ini yang berpotensi bikin dosen tajir. Kenapa? Cek aja di google: “Research grant”, atau “Hibah penelitian”, atau hibah-hibah lainnya yang dibuat buat dosen. Sekali riset bisa jutaan. Udah pernah ngerasain? Belum sih. Tapi dikiiiiit lagi nembus.

Sama lah kayak orang periklanan. Namanya harum kalau portofolionya bagus. Pernah handle brand apa aja. Dosen pun juga gitu. Salah satu porto yang bisa diandelin adalah, pernah punya riset apa aja? Dan riset itu berkesinambungan atau nggak.

Riset? Lama dong! Iya. Ada yang lebih cepet? Ada. Nulis. Nulis apa aja. Buku, artikel koran, atau expertise lain yang bisa dilakukan selepas kerja. Dosen tanpa skill nulis, kayaknya aneh sih. Dari jaman sekolah sampai S2, kan ada beberapa kali kewajiban nulis riset kan? Nah, itu kepake banget pas jadi dosen. Untung jaman dulu kuliah nggak pake joki jurnal. Hahahaha.

women studying GIF by US National Archives pengalaman dosen baru Pengalaman Dosen Baru: Yakin Mau ‘Kerja’ Jadi Dosen (PNS)? 200

Gue anggep ini sidejob sih. Sepengalaman gue, kalau jadi dosen, pasti udah agak mateng lah umurnya. Dan sebelum jadi dosen, pasti punya temen dan network banyak. Ini yang bisa membantu kita saat belum di kondisi mapan sebagai dosen. Namanya rejeki kan nggak kemana. Nah untungnya, sampai sekarang masih ada aja yang nawarin kerjaan sambilan selama nggak ganggu dan bisa dikerjain abis jam kerja. Dan bisa remote working. Ini yang penting.

Jadi dosen bakal miskin dong?

Nggak. Makannya banyakin ngobrol sama senior. Kenapa? Gue prediksi, susah payahnya ada di 3 tahun pertama. Ya gimana, anak baru. Sama hal nya dengan tempat kerja lainnya, akan banyak kok pengembangan karir sebagai dosen (PNS). Misal: Ada sertifikasi dosen: ini bikin gaji lo jadi dobel. Kenapa? Dosen beda sama PNS kementerian ya. Kalau PNS kementerian setau gue ada tunjangan kinerja (tukin). Nah, dosen nggak ada. Makannya ada serdos.

Selain itu? Ada juga kenaikan jabatan fungsional. Dosen awal biasanya statusnya asisten ahli. Nah, per jabatan fungsional juga ada fee nya. Setelah asisten ahli, ada lektor, terus lektor kepala, terus profesor. Tunjangannya katanya lumayan lho! Paling nggak bisa bikin gaji di atas UMR.

Ada lagi, jabatan struktural. Kayak kaprodi, kajur, dekan (kalo di universitas), dll. Nah, ini kalau diistilahkan katanya sebagai tugas tambahan dosen yang diluar jobdesk. Ada tunjangannya? Ada. Berapa? Nah, ini gue belum pernah ngerasain. Hehehe.

Jadi, buat menjawab pertanyaan umum itu, template gue adalah:

Gimana? Enak nggak jadi dosen, apalagi PNS? Yah, enak kok.

Kedua, gajinya berapa? Lebih gede gaji lo pasti. Tapi cicilan rumah masih kebayar kok.

Ketiga, lebih santai dong kerjanya? Kerjaan yang dulu juga santai kok. Masih bisa sebatbut sambil ngopi sore.

Jadi, masih mau jadi dosen (PNS)?

Nanya Dong

 

Nah, ngomongin soal remidial, silakan kalian pilih salah satu options di bawah ini:

  • Bikin analysis digital marketing brand: Gopay vs Ovo vs Dana di media sosial tahun 2019. Format PPTX.
  • Bikin video explainer tentang indonesian female audiens behaviour tahun 2019 & prediksi tahun 2020. Format MP4 durasi 3 – 5 menit.

Bagi yang bermint remidial nilai, file dikirim ke [email protected] paling lambat 04 Januari 2020 Jam 23.59 WIB. Format subject: Polimedia_Remidial_Nama_NNIM. Lewat dari deadline & subject nggak sesuai, file langsung masuk ke trash.

Ramalan Tren Konten 2020, Makin Canggih Makin Jenuh?

***bersih-bersih dulu***, banyak sarang laba-laba di web gue. Efek hampir bulat setahun nggak diurus, alias matisuri. Nah, kemaren ada yang nanya,”Jo, kira-kira kalo mau bikin konten yang rame di tahun depan, alias 2020, kira-kira konten yang kayak gimana ya?” . Berhubung gue bukan pakar konten yang demen ngadain seminar bisnis jutaan, gue bikin versi sotoy-nya dulu. Silakan baca, nggak berbayar kok. Ini tren konten 2020 yang menurut gue bakal rame diomongin.

Animation Smile GIF by eve hernandez tren konten 2020 Ramalan Tren Konten 2020, Makin Canggih Makin Jenuh? giphy

Sebelum ngomongin tren apa aja yang versi kesotoy-an gue bakal rame, perlu ditelaah dulu. Selama setahun ini, teknologi udah lebih canggih. Bahasa kerennya, perkembangannya semakin terakselerasi. Kenapa gue perlu ngasih tahu soal ini? Karena McLuhan bilang,”Teknologi dan komunikasi berkembang berbanding lurus. Semakin canggih teknologi, ya semakin canggih cara orang komunikasi.”.

Kalo beberapa tahun lalu, bikin konten keren dianggap harus punya alat canggih, atau bahkan software keren, mahal (dan ori). Sekarang? Siapa aja bisa cantik hanya dengan handphone yang ada beauty filternya. Makin banyak laptop & smartphone yang lebih murah dan affordable buat bikin konten. Kamera handphone walau murah udah lebih canggih. Mirrorless udah nggak jadi milik kalangan menengah ke atas. Dan banyak faktor teknologi lain yang menunjang.

Nggak cuma itu, sekarang mau belajar sesuatu lebih gampang juga. Tinggal klik dan cari apa yang mau dipelajari, software apa aja, kayaknya udah banyak. Belum lagi sekarang banyak aplikasi atau software yang bisa dipilih buat bikin konten bagus. Semuanya tinggal balik lagi ke insting dan selera.

Nah, sekarang ngomongin tren konten 2020 yang feeling sotoy hamba, akan rame dan banyak dikonsumsi oleh banyak orang. Mari kita simak:

Konten “Receh”

prank GIF tren konten 2020 Ramalan Tren Konten 2020, Makin Canggih Makin Jenuh? giphy

tren konten yang ini, sebenarnya udah banyak beredar di tahun-tahun sebelumnya. Receh bukan berarti nggak berfaedah ya. Dianggep receh karena dibikin asal-asalan, tapi sebenarnya banyak yang secara sengaja atau nggak sengaja nonton, ngedengerin, bahkan sekedar baca.

Kenapa makin banyak konten receh yang rame di tahun 2020? Alesannya simpel. Seiring dengan makin terkoneksinya manusia secara virtual, semakin banyak konten yang beredar. Mulai dari curhat, sampe yang serius. Nah, saking capeknya sama konten serius, konten receh akhirnya menjadi alternatif banyak orang. Alias sebenernya, audiens udah capek sama hal-hal yang dianggep serius di dunia nyata.

Prank Apa Spontan Nih?

april fools day car GIF tren konten 2020 Ramalan Tren Konten 2020, Makin Canggih Makin Jenuh? giphy

Tahun lalu, ‘prank’ mungkin masih jadi primadona, terutama buat beberapa platform. Cuma, prank dianggap udah bukan prank lagi karena dramanya ngelebihin drama reality show di TV. Orang lari ke digital gara-gara lelah sama apa yang ada di media lainnya kan? Nah, semenjak konten prank rame, ternyata banyak yang bikin prank yang bukan prank. Tapi sebenernya, feeling sotoy gue mengatakan, naluri manusia suka hal yang spontan. Termasuk spontanitas yang terekam.

Misalnya, orang kaget nggak sengaja kerekam. Orang nyanyi suaranya jadi cowok nggak sengaja. Atau hal lain. Dan konten-konten yang nggak sengaja ini menurut gue malah konten prank yang bakal rame di 2020 dan akan lebih mudah terkonsumsi dari yang lainnya. Lebih baik menjadi diri sendiri daripada dibuat-buat lah. Ecia.

Laporan Warganet

casey neistat camera GIF by Johnny2x4 tren konten 2020 Ramalan Tren Konten 2020, Makin Canggih Makin Jenuh? giphy

Seiring berkembangnya teknologi, prinsipnya adalah: ada kejadian, rekam, kirim. Walau bermodal koneksi internet pas pasan di Indonesia, banyak informasi update justru rame dari laporan netizen atau warganet. Dan ini bisa jadi semakin dominan di tahun depan. Ada banjir di daerah X, nggak sampe 5 menit udah nongol di internet. Ya, dunianya semakin berkembang kok.

Kenapa konten warganet berupa laporan ini bakal rame juga? Simpel sih. Orang indonesia kan demen banget memperlihatkan sesuatu. Banjir, ada bom, punya tas baru, prinsipnya, rekam, share.

Visual Keren Bakal Rame?

party space GIF by GOLDN tren konten 2020 Ramalan Tren Konten 2020, Makin Canggih Makin Jenuh? 200

Ini sebenernya dilematis. Seiring makin banyaknya orang jago bikin visual, brand bakal kelimpungan. Makannya perlu muter otak dan mikir, apakah visual desain sinematografi dan sejenisnya penting walau hanya dibagikan di media sosial? Jawabannya pasti iya. Ujung-ujungnya adalah reputasi.

Tapi, keren itu sendiri subjektif. Percuma keren kalo kontennya juga sepi sih. Makannya, perlu dibangun juga relevansi. Kalo lo mau bikin keren sekedar buat gaya-gayaan atau show off soal konten di media digital, itu oke. Tapi kalau punya objektif lain, misalnya biar barang lo laku, belum tentu juga. Toh buktinya iklan peninggi badan, visualnya pas-pasan, masih laku aja? Hehe

Topik Politik Makin Mendominasi

GIF by Prahara Senja tren konten 2020 Ramalan Tren Konten 2020, Makin Canggih Makin Jenuh? giphy

Efek tahun politik 2019 bakal tetep berasa. Orang indonesia udah lebih teredukasi soal politik. Ini juga berhubungan dengan soal pemerintahan dan sejenisnya. Protes-protes politis udah makin lebih terbiasa ada dan kita lihat. Profesi bernama “buzzer politik” pun sekarang udah jadi rahasia umum.

Jadi, tahun depan kita tetep kok ngeliat konten politik, tapi lebih cair sih. Kan Pak Jokowi dan Pak Prabowo udah satu kubu. Hehehe. Paling yang tetep bakal rame ya soal pilkada, atau konten-konten momentum kayak ada yang ketangkep korupsi, atau ada kebijakan luar biasa dari pemerintah. Misal? CIcilan rumah dihapuskan. LoL.

Hoax (Amit-Amit Sih), Bakal Lebih Rame

video crab GIF tren konten 2020 Ramalan Tren Konten 2020, Makin Canggih Makin Jenuh? 200

Ini yang paling ditakutkan dari tren konten tahun 2020. Dan yang gue baca dari berbagai ramalan konten 2020, banyak juga kok yang memprediksi hal sama. Mungkin Dajjal udah makin deket kali ya? Hahahaha.

Kelemahannya konektivitas yang semakin mudah adalah informasi semakin gampang disebarkan. Dan masalahnya, kita masih males buat melakukan verifikasi informasi. Nah, ini yang ngebikin kebohongan mudah banget tersebar. Tapi semoga aja tren yang satu ini gue salah sih.

Audiens Lebih Teredukasi, Walau Kurang Verifikasi

school education GIF by SoulPancake tren konten 2020 Ramalan Tren Konten 2020, Makin Canggih Makin Jenuh? giphy

Dengan adanya teknologi, sekarang nggak cuma bisa ngurusin soal hiburan. Dari data google trend sendiri, audiens di Indonesia lebih banyak mencari hal-hal berfaedah. Walau tingkat pencariannya masih kalah sama topik ‘porn’, kata kunci kesehatan, home improvement, cara melakukan ini itu sudah makin banyak dicari di Indonesia. Ini yang sebenarnya jadi hal bagus dan perlu disambut sama konten maker. Banyakin konten edukatif kayaknya seru. Nggak apa-apa sih sambil endorse, tapi lebih seru lagi kalo sambil mengedukasi orang banyak.

Cepat Rame, Cepat Terlupakan

scrolling idle hands GIF by Geo Law tren konten 2020 Ramalan Tren Konten 2020, Makin Canggih Makin Jenuh? giphy

 

Inget ibu-ibu berantem di kereta? Akhirnya ketemuan dan ternyata itu iklan? Yang penting mah viral dulu. Rame, baru deh brand masuk. Keramaian itu kayaknya sudah mulai dilupakan oleh audiens. Karena saking banyaknya konten yang diproduksi setiap hari, orang akan susah mengingat sesuatu kalo nggak penting-penting banget.

Kasus kobra? Sekarang rame. Tapi mungkin bentar lagi juga sirna.

Celeb Is Gone?

animation love GIF by Astrid_S tren konten 2020 Ramalan Tren Konten 2020, Makin Canggih Makin Jenuh? giphy

Sekarang kayaknya kalo jadi selebriti lebih mudah ketimbang beberapa dekade lalu ya? Dan selebriti yang ada di sinetron pun sekarang akan lebih susah teringat dibanding selebgram atau sejenisnya. Selebgram pun sekarang juga sudah mulai kayak jamur, bahkan lumut. Nggak keitung. Everybody is celeb bagi orang tertentu. ya mungkin sih. Drama-drama gosip artis dan sejenisnya, mungkin nggak akan serame beberapa tahun lalu. Apalagi sekarang banyak konten gosip artis yang nongol di infotainment TV atau media manstream berawal dari media sosial. Yah, gimana dong.

Terus intinya? Yap, tren konten akan lebih berwarna. Ada yang hilang dan ada yang berkembang. Intinya adalah relevansi sama audiens. Mungkin bisa jadi kita bikin tren itu sendiri, tapi akan sangat susah, makannya banyak yang akhirnya ngikutin arus. Yang rame apa, ya ikutin aja.

Audiens makin jenuh sama konten-konten yang serius, itulah kenapa banyak konten hiburan mulai dari yang receh sampai yang artsy yang makin banyak dikonsumsi.