Efek Skandal Cambridge Analytica: Ini Manfaatnya Jadi “Alay” di Era Digital

Jika selama ini kamu menganggap alay itu norak, merenunglah! Di era digital, alay telah selangkah lebih maju dibanding netizen normal di media sosial. – Joni, tukang kopi keliling komplek.

Kalau harus jujur, salah satu kumpulan audiens yang paling susah dianalisis karakteristiknya di era digital saat ini adalah audiens dengan karakter alay. Alay di buku yang ditulis Pak Rhenald Kasali, Cracking Zone lalu disadur di wikipedia dalam bahasa Indonesia, dianggap memiliki perilaku unik dalam hal bahasa dan gaya hidup. Dalam gaya bahasa, terutama bahasa tulis, alay merujuk pada kesenangan remaja menggabungkan huruf besar-huruf kecil, menggabungkan huruf dengan angka dan simbol, menyingkat secara berlebihan, atau membolak balik huruf sehingga membentuk kosakata baru. Dalam gaya bicara, mereka berbicara dengan intonasi dan gaya yang berlebihan.

Hm… setelah sekian lama fenomena alay muncul, dengan berbagai kontroversi yang ada, akhirnya terpecahkanlah faedah dari “menjadi alay”. Apalagi setelah muncul “The Cambridge Analytica scandal” , yang mungkin skandal data di era digital yang rasanya paling nyetrum di awal tahun ini. Gimana nggak nyetrum? Beberapa waktu paska skandal ini muncul, dunia sepertinya ribut. #DeleteFacebook muncul sebagai gerakan ‘kemarahan’ pengguna internet. Saham facebook (FB) di Nasdaq terjun bebas (sampai tulisan ini dirilis, masih terjun) turun dari USD176,8 (Rp2,4 juta) per lembar pada hari Senin lalu menjadi USD159,3 (Rp2,2 juta) pada hari Jumat malam. Yaelah, Cuma 200 ribu doang. Eits… 200 ribu kali berapa? Kalo dari beberapa rilis yang didapat, kurang lebih dengan penurunan sebanyak 200 rebu doang itu, dengan volume saham Facebook yang ada di pasar saham, valuasi Facebook menurun sebesar USD58 miliar (Rp799,5 triliun), alias Facebook kehilangan duit sebanyak 7 Triliun rupiah.

Saham Facebook Jeblok.
Saham Facebook Jeblok. Sumber: Geekwire.com

Kalo lo bingung duit 7 T itu kayak apa, kurang lebih gini. Dengan uang 7 T (nol nya ada 12), kamu bisa beli 7,000 unit apartemen paling mahal dengan 4 kamar mewah di Meikarta. Dengan duit 7 T, kamu juga bisa bikin jalan tol sepanjang semarang – demak. Jadi, kebayang dong gara-gara skandal data ini, gimana pusingnya Mark Zukerberg. Sampai-sampai, boss Facebook ini minta maaf di beberapa media di Amerika Serikat dan di Inggris.

Oke, mari kita lupakan sejenak duit 7T. Ngebayangin cicilan KPR aja nggak kelar-kelar, apalagi ngebayangin duit 7T. Kita balik lagi ke kenapa Alay itu sekarang punya manfaatnya. Kita telaah secara bego-begoan, hikmah dari skandal Cambridge Analytica yang ngambil sekitar 50 juta data di Facebook, semua perilaku, semua konten, bahkan semua personalitas kita bisa dijadikan bahan dagangan sama pemegang data.

Simpelnya gini, Cambridge Analytica bikin aplikasi atau ala-ala kuis kuisan. Nah, kuis itu diakses sama orang yang punya akun facebook. Kita bisa ikutan kuis itu asal login pake facebook. Dari situ, secara nggak sadar kita sudah ngasih ijin ke aplikasi atau tools yang dibikin sama Cambridge Analytica buat mengakses semua data-data kita di facebook. Mulai dari postingan kita, biodata, sampai apa saja yang kita sukai di akun facebook. Mungkin, ini mungkin ya, bisa aja pas kamu stalking pacar orang, Cambridge Analytica juga punya datanya. Hehe. Kalo kamu yang stalking sih nggak penting. Tapi kalo yang stalking pacar orang itu pejabat selevel menteri? Anggota DPR? Atau bahkan calon presiden? Hayoloh!

Jadi, buat kalian yang dulu pernah ngatain alay ke akun facebook orang atau akun media sosial orang lain, eits, ternyata kamu selangkah lebih terlambat dari para alay-alay yang gentayangan di media sosial.

Jangan ngamuk, biar para politikus aja yang suka ngamuk. Mari kita ngopi dulu. Sambil baca kenapa kita sebagai manusia normal yang suka bersosial media ini kalah langkah dari para alay. Tiga alasan aja ya, kalo kebanyakan, ntar kamu muntah. Kasian.

  1. Alay itu suka merubah huruf jadi angka

Sistem kerja “big data” itu ngumpulin data-data personal baik profil maupun apa yang kita post. Istilahnya data mining. Maaf ya kalo salah. Kalo salah tolong dikoreksi di kolom komentar :D. Nah, sebagian besar perangkat analisis digital yang narik data dari media sosial, termasuk data personal dan postingan digital kita, nantinya akan dikumpulkan di satu wadah (kalo nggak salah namanya server) lalu diolah jadi sebuah grafik. Atau apalah itu. Misal, dari 50 juta data akun yang ditarik di sebuah tempat, kita bisa tau siapa yang ngomongin “eek”. Dan apa saja kata yang berhubungan dengan “eek”.

Nah kalo alay? Kata “eek” kan bisa diganti jadi “33k”. Nah, kata kunci ini belum tentu terdeteksi sama tools keyword tracking. Kalopun terdeteksi, mungkin bakal berabeh. Alias analisnya bakal mabok. Itu baru 1 kombinasi kata eek jadi 33k. Kan ada yang gede kecil kayak eEk, atau 3Ek, atau e3x. Hayo, pasti pusing dong bacanya? Ini baru dari data sederhana. Alay pasti lebih paham.

  1. Alay itu ada yang suka ngasal pas ngisi biodata

Nah, kalo ini, pasti kamu pernah ketemu. Wong jelas-jelas rumahnya di Demak, Jawa Tengah. Tapi di bio facebook bilang tinggalnya Di Denmark. Atau sekolah di SMP 1 Kroya, tapi bilangnya di Korean High School. Yah, inilah alay indonesia yang one step forward than us. Mereka tahu, kalo ngisi data dengan benar, Facebook akan punya data kita, lalu dianalisis kebiasaan kita. Misal, nggak mungkin dong, kita tinggal di Demak terus dapet iklan tentang Denmark Football Academy. Nah, mungkin alay dapet nih iklannya.

Intinya mengacak validitas data di facebook. Yang sudah paham ini alay. Kita? Selamat! Semakin lengkap biodata kamu di facebook atau media sosial lainnya, kamu telah merelakan privasi kamu dijual. 😊

  1. Konten Alay bikin analis sakit mata (mungkin)

Kamu pernah liat Alay share foto profil? Atau share gambar? Bikin sakit mata ya? Yaudah, ini nggak perlu dijelasin lah. Mereka sudah satu langkah lebih paham dari kita sebagai netizen yang terhormat yang suka berbagi foto dan nulis caption atau tag lokasi. Semakin sering dan valid lokasi kita, maka data kita akan semakin terkumpul, dan semakin lama semakin menjadi pola, yang terus akan dijadikan bahan analisis untuk berbagai keperluan.

 

Ebuset, udah panjang juga ya tulisannya? Kalau kamu membaca sampai bagian ini, selamat! Mungkin kamu tipikal orang yang lagi nggak ada kerjaan. Saking nggak ada kerjaanya, sampai baca blog orang sampe lama banget. Hehehe

Lanjut?

Oke, terus gimana? Ya, bersosial media itu adalah hak semua orang. Termasuk, pas kita mendaftar dan bikin akun (media sosial apapun), kita sudah menyetujui user agreement yang kita centang. Gue yakin kalian nggak baca. Asal centang aja, yang penting akun cepet jadi. Ahahaha. Coba kalo alay, pasti mereka baca dari awal sampe akhir. Eits.

Oke, ini serius. “Jo, kan gue ngeposting-nya gue privat. Terus, gue batesin yang liat postingan gue Cuma temen gue doang.”

Iya, itu dari sisi yang terlihat. Tapi, ibarat kamu punya rumah. Terus ada orang ngekost di rumah kamu. Sebagai yang punya kost, emang kamu nggak boleh pasang CCTV di semua tempat? Termasuk kamar orang yang ngekost? Yah, asal nggak ketahuan, nggak apa-apa dong?

Begitu juga media sosial. Kalo nggak punya data penggunanya, terus gimana cara mereka gaji ribuan karyawan? Gimana caranya mereka jualan ke pengiklan? Hayo? Ada yang bisa jawab? Ya! Kamu! Coba jawab. Kalo benar, aku kasih sepeda. Foto dulu aja ya.

Terus gimana?

Batasi. Ya, batasi. Kalo kamu masih peduli sama privasi, ya isi yang perlu aja. Dunia nggak perlu tau kok kamu lagi jalan-jalan kemana, jadi nggak usah tiap detik kamu ngepost lagi dimana. Atau, dunia nggak perlu tau ibu kamu, ayah kamu, bahkan anak kamu itu siapa. Yang diperlukan adalah isi otak kamu.

Jadi, coba cek lagi laman profil kamu. Kamu pernah ngelike apa aja. Atau di twitter, kamu pernah follow siapa aja. Kalo nggak perlu, atau nggak kenal, ya diunfollow aja atau diunlike. Kok? Iya, itu cara sederhana kita untuk menjaga privasi publik.

Ada lagi? Ya! Jangan kebanyakan ngelike. Apalagi ngelike postingan akun suami atau istri tetangga. Nanti ribut. Hehe.

Berantakan ya narasi gue? Maaf ya. Maklum, lagi belajar.

Sumber featured image ada di sini.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

%d bloggers like this: