Jangan Kerja Di Advertising Agency, Kecuali….

5 tahun lalu, mungkin kerja di biro iklan, alias bahasa kerennya advertising agency adalah posisi yang aneh. Apalagi digital agency. Pas kamu ditanya kerja di mana dan jawabnya digital agency, pasti beberapa respon yang kamu dapatkan adalah: oh, digital printing. Atau hah? Kuliah tinggi-tinggi kerja di tukang foto digital?

Itu kisah lima tahun lalu. Sejak bikin advertising agency semudah goreng kacang alias tinggal bikin web dan template model agency di themeforest, advertising agency, terutama digital agency tumbuh kayak jamur pas musim hujan. Ya, emang agak lebay analoginya. Tapi beneran kok.

Tapi sekarang kita ngomogin kerja di advertising agency beneran ya. Udah ada PT, punya HRD, dan kamu dapet asuransi entah itu BPJS atau asuransi yang lain. Seenggaknya, bukan kerja kayak model freelance, walau kerja di advertising agency dianggap lebih fleksibel alias jam kerjanya bukan saklek dari jam 9 sampai jam 5.

Beberapa mahasiswa, atau kolega pernah nanya, emang enak kerja di biro iklan? Ngurusin iklan di TV, Baliho, atau di online? Bagi gue, itu relatif sih.

Tapi, secara baru 8 tahun di industri periklanan, dan levelnya masih nubi, apalagi banyak sesepuh yang udah puluhan tahun di industri, gue cuma mau ngasih tips bego-begoan. Daripada ngalamun di kereta, ye kan. Mending nulis aja.

Tips ini kepake buat yang masih mikir-mikir, atau bingung mau kerja di advertising agency atau nggak. Inget, ini tips bego-begoan. Dibikin tanpa kajian ilmiah, riset data, dan sambil nungguin kereta dari depok ke pasar minggu.

Turnover Kebanyakan Tinggi

Mungkin ini tempat terlama gue kerja. Lebih dari 3 tahun. Dan selama 3 tahun, awalnya gue kaget. Tiap bulan ada aja anak baru, ada yang resign. Lama-lama jadi biasa. Dan setelah ditelusuri, emang di industri biro iklan yang notabene dianggap banyak pelaku kreatif di dalamnya, tingkat turnover di sebuah perusahaan relatif cukup tinggi.

Kalo Lo Gampang Bosen, Pikir Lagi

Mungkin salah satu penyebab tingginya turnover di biro iklan yang selama ini gue amati karena kebanyakan usianya masih di kisaran 22-35, dimana usia tersebut dianggap masih suka mencoba hal baru, alias bosenan.

Dan, belum lagi tawaran di luar sana kalo misalnya lo dianggap sebagai talent anak iklan yang diatas rata-rata. Kalau di perusahaan lain perlu waktu 5-10 tahun buat naik jabatan, di biro iklan, kalau lo emang oke, 1 tahun kerja juga udah bisa naik posisinya. Cuma, balik lagi, bosenan itu jadi kendala. Mungkin ini problematika karakter orang kreatif yang nggak betah stay lama di satu tempat. Hehehe.

Jangan Gampang Baper

Direvisi dikit ngambek. Belum juga dimaki-maki klien. Ada istilah, kerja di periklanan, setengah gaji kita dibayar buat dimaki-maki klien karena karya kurang oke. Ya, padahal karya itu sebenernya subjektif. Logo nike yang centang doang itu aja bisa mahal. Coba kalo yang bikin bocah fresh graduate. Belum tentu bisa kepake sama klien.

Nah, inilah yang bisa bikin lo mungkin perlu mikir ulang. Kalo baperan, mending jangan kerja jadi anak iklan. Dramanya banyak banget. Itu baru dari sisi klien. Belum lagi sisi tim yang tiap hari kerja bareng. Nyatuin isi kepala sendiri aja kadang susah, apalagi nyatuin isi kepala banyak orang.

Makannya itu, sekarang ada transisi yang menurut gue oke. Sekarang, indikator kerennya sebuah karya nggak cuma dilihat dari sisi estetika. Itu cukup subjektif. Sekarang, banyak brand ngajak kerja bareng biro iklan lebih ke arah business performance. Ya balik lagi sih, percuma iklan yang dibikin keren, sekeren lukisan Monalisa yang dibikin sama Da Vinci, tapi nggak ngefek ke performa bisnis perusahaan.

Jadi, brand yang paham tentang bisnis performa, itu cukup ngebantu orang yang baperan di biro iklan biar nggak dikit-dikit ngambek gara-gara direvisi visual iklannya beda 0.5 piksel.

Istiqomah alias konsisten

Ini sebenernya nggak cuma berlaku di industri iklan aja. Tapi di semua industri, bahkan kalau mau bisnis. Sekarang eranya lebih kompetitif dibanding jaman orde lama atau orde baru dikala cari kerjaan itu dianggep lebih mudah. Tingkat kompetisi di industri iklan cukup ketat. Disaat kita tidur malem, mungkin masih ada anak advertising agency yang lagi ngerjain kerjaan atau sekedar belajar buat cari insight baru biar otak lebih keupgrade.

Ibaratnya, aplikasi handphone aja tiap hari selalu ada update. Masa isi otak nggak diupdate juga? Apa kabar sama consumer behavior transition? Digital transformation? Dan lainnya.

Kurang lebih gitu sih. Dan nggak usah kerja di advertising agency. Itu berat. Jadi ibu rumah tangga aja, buat jagain anak kita. Elahtae.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer

%d bloggers like this: